Ghibah Programmer #2 – Gaji Programmer

Artikel ini merupakan seri dari Ghibah Programmer, pada seri ini saya akan menulis soal hal yang sebagian besar bukan hal teknikal melainkan berbagai hal yang sehari-hari dikerjakan atau dilakukan seorang programmer. Kenapa dinamakan Ghibah Programmer? Terinspirasi dari mas Agil Baka yang demennya Ghibah-in berbagai startup di Indonesia, karena saya bukan pakar per-startup-an di Indonesia, jadi mari kita alihkan saja topiknya kepada programmer itu sendiri yang mana juga profesi saya sendiri.

Ghibah sendiri dalam bahasa Indonesia bisa diasosiasikan dengan gosip.  Yap karena artikel ini bisa jadi akan ngomongin berbagai hal mengenai saya pribadi atau kamu, iya kamuuuu. Jadiii jangan baper ya.

Sumber gambar: pexels.com

Seri kali ini saya akan membahas mengenai gaji programmer dari kacamata saya pribadi, tentu seperti biasa tidak akan dilandasi dengan data yang bisa dipertanggungjawabkan karenanya tidak perlu diambil hati segala yang tertulis pada seri kali ini. Bila kalian mencari artikel yang lebih komprehensif dan serius diiringi data yang baik, salah satunya telah ditulis oleh Refactory di blog mereka yang bisa dibaca di tautan https://refactory.id/post/74-berapa-seharusnya-gaji-programmer-di-indonesia

Artikel ini didasari dari seringnya saya menemui sebuah post di sosial media terutama Facebook, dimana ada seseorang atau suatu perusahaan yang mencoba post lowongan pekerjaan mereka pada sebuah forum programmer dengan mencantumkan jelas berapa kisaran gaji yang bisa mereka bayarkan untuk posisi tersebut. Kebanyakan post ini hanya akan berakhir dengan bully-an, cemoohan atau bahkan sikap menyepelekan dari sebagian besar member group tersebut. Cemoohan ini bisa jadi berasal dari para senior programmer (*oknum aja sih) yang merasa gajinya sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan gaji yang ditawarkan oleh si TS yang post, atau bisa jadi bahkan berasal dari newbie yang ingin mendapatkan gaji tinggi meskipun belum ada pengalaman yang mumpuni, yang paling kacau tentu cemoohan yang datang dari member yang hanya iseng dan tidak ada keinginan untuk melamar pekerjaan tersebut.

Pertanyaannya, sebenarnya harus bagaimana sih kita sebagai programmer menanggapi rentang gaji programmer yang saat ini memang memiliki jurang atau perbedaan yang cukup besar antara satu orang dengan orang lainnya? Standard yang mana yang harus kita gunakan untuk mengecap suatu gaji berada di bawah pasaran? Haruskah kita merasa kesal ketika ada yang memasang lowongan pekerjaan untuk programmer dengan gaji di bawah pasaran?

Sebelum mulai menjawabnya, saya akan coba refleksikan ke perjalanan karir saya pribadi yang telah saya tempuh selama ini. Saya pertama kali mendapatkan pekerjaan sebagai programmer itu di sekitar pertengahan tahun 2013-an, saat itu saya hanya mendapatkan gaji sebesar UMP DKI Jakarta saat itu (*lebih sedikit). Setahun kemudian masih di tempat yang sama saya mendapatkan kenaikan gaji hampir 80% dari gaji sebelumnya. Tahun ketiga saya sudah bisa pindah ke kantor yang lain dengan kenaikan gaji saat pindah sekitar 20-30%. Butuh waktu lebih dari setahun di kantor tersebut untuk mendapatkan kenaikan gaji, karena saya pindah pada saat menjelang pergantian tahun. Tahun berikutnya saya mendapatkan kenaikan gaji berkisar 30% dari gaji sebelumnya dan tahun berikutnya lagi sekitar 10%. Tahun terakhir saya akhirnya memutuskan pindah dengan kenaikan gaji sekitar 70% dari gaji sebelumnya. (Sudah kebayang kan berapa kira-kira gaji saya sekarang 😂?)

Poin yang ingin saya coba sampaikan dari apa yang telah saya alami selama ini adalah bahwa pada saat saya pertama kali menjadi programmer bahkan dengan gaji UMP sekalipun, saya tidak pernah mengeluh karena saya merasa memang saya hanya pantas dibayar sebesar itu pada masanya. Bekerja keras dan membuktikan bahwa saya memang layak dibayar lebih (*faktor doa dan kehendak Allah tentu selalu memiliki andil besar juga ya) pada akhirnya menurut saya pribadi adalah cara yang ampuh ketika kita merasa gaji kita terlalu kecil. Bila perusahaan saat ini tidak bisa menghargai dengan pantas setelah segala usaha maksimal yang kita berikan, tetap percaya kalau ada perusahaan lain di luar sana yang bisa menghargai usaha tersebut.

Menanggapi besarnya perbedaan gaji antara satu programmer dengan programmer lain, menurut saya bisa jadi sah bisa jadi juga tidak. Hal ini berkaitan dengan profesi programmer yang memang termasuk profesi kreatif dimana susah untuk menentukan standard yang tepat untuk setiap orang. Sangat sering kita jumpai satu orang memiliki pengetahuan yang sangat jauh berbeda dibandingkan teman lainnya, pun soal dampak yang diberikan terhadap perusahaan, sesama programmer bisa jadi memberikan dampak yang sangat berbeda satu sama lainnya. Faktor banyaknya perbedaan inilah yang menimbulkan lebarnya rentang gaji bagi seorang programmer. Tentu saja kemampuan si perusahaan dalam memberikan gaji juga tidak kalah menentukan, bisa jadi akan sangat berbeda gaji seseorang yang bekerja di Unicorn dengan seseorang yang bekerja di perusahaan rintisan (*tidak selalu, tapi kalau mau di generalisir ya begitulah). Sikap kita sebagai programmer dalam menanggapi hal ini sih menurut saya ya jadikan penyemangat saja. Bersyukur karena di profesi programmer masih ada peluang yang sangat besar bagi kita untuk mendapatkan gaji yang wah.

Standard yang mana yang seharusnya kita jadikan pegangan? Menurut pribadi saya ini kembali pada diri kita masing-masing dalam mengukur kepantasan untuk digaji. Tapi untuk angka minimal, profesi programmer di Indonesia menurut saya tidak seharusnya berada dibawah UMP kotanya. Meskipun bukan hal yang tidak boleh bila memang sama-sama bersedia antara si penggaji dan yang bekerja dengan gaji dibawah UMP.

Apakah kita harus kesal bila ada yang men-posting lowongan pekerjaan dengan gaji di bawah standard kita? Menurut saya tidak usah lah, masing-masing orang sudah ada rejekinya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bila kita rasa angka tersebut terlalu kecil bagi kita berarti memang lowongan tersebut tidak diperuntukkan bagi kita. Siapa tau memang ada orang lain yang membutuhkan lowongan pekerjaan tersebut, kita tidak berhak menutup rejeki orang lain. Seberapapun kecilnya bagi kita, bisa jadi merupakan rejeki bagi orang lain. Jangan sekali-kali menyepelekan rejeki orang lain.

Begitu kira-kira…

Terima kasih dan tunggu seri berikutnya, jangan lupa tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar di bawah ini. Saya juga terbuka untuk masukkan berbagai topik yang kalian inginkan untuk dibahas pada seri selanjutnya.

 

Irfan Maulana

Seorang pengembang web antar muka dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di beberapa perusahaan. Pengetahuan saya meliputi HTML, CSS, dan JavaScript. Saya juga memiliki beberapa projek open source yang bisa kalian lihat di Github saya @mazipan. Selalu senang hati bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan teman-teman.